Terlihat
Senja ini ramai seperti biasa, jam lima sore memang waktu paling tepat menyusahkan diri sendiri, aku disini terjebak kemacetan arus balik pulang para kaum pekerja yang tak sabar untuk kembali pulang, dan disampingku ada kamu, yang dari tadi hanya terdiam dan tampak tidak punya semangat.
"sebenarnya aku salah gak sih mutusin dia?" tanyanmu tiba-tiba padaku.
"yaa kalo menurut lu dia emang layak diputusin sih, udah paling bener apa yang lu lakuin, kan kalo lu ga yakin tinggal balikan lagi haha..." jawabku setengah bercanda.
"ya pasti layaklah! dia udah khianatin gue gini, udah selingkuh pula, gue sampe sekarang ga abis pikir dia kok tega ngelakuin giniaan sama gue" sampai sini aku dengar nada suaranya mulai berubah, aku tau dia mulai menahan air matanya.
"terus kenapa? lu masih bimbang sampe sekarang sama keputusan lu?"
"entahlah gue juga ga tau, aku tetep ga bisa ngelupain dia, kenapa sih hidup gue gini amat? selalu berakhir gini dicampakkan, dikhianati, selalu seperti ini apa salah gue??" akhirnya, nangis juga pikirku.
"kalo lu tanya gue, lu cuma kurang beruntung doang, yaa belum ketemu orang yang tepat aja"
"berapa lama lagi sakit yang harus gue terima sampe dapat laki-laki yang bener-bener cinta sama gue??" tangisannya semakin menjadi.
"gue sendiri ga tau sih, tapi lu harus percaya lu akan ketemu, kalo lu percaya gue yakin ga akan lama lagi lu pasti ketemu sama orang yang lu impikan"
dia terdiam sejenak, menyeka matanya, merapikan dandananya.
"iya, gue harap" pungksanya sambil memandang jauh ke luar sana
dan mobil kami pun masih tetap disini tidak kemana-mana kalah oleh lautan manusia yang tetap tidak bergerak dipersimpangan lampu merah ini.
dua minggu setelahnya aku ketemu dia lagi, kali ini saat dia mengajak untuk jogging ditaman kota, ini pertama kalinya dia mengajakku berolahraga, aku iyakan karena memang akhir-akhir ini hidupku hanya berada didepan leptopku, mengerjakan tugas.
"tumben ngajakin olahraga?" tanyaku.
"iya nih, aku mau nyari-nyari kegiatan aja, siapa tau aku bisa ngelupain mantanku yang kurang ajar itu"
"yaelah niat banget ngelupainnya haha"
"iya entah mengapa gue tetep merasa kesepian, habis putus dengan dia, gue kayak kehilangan sesuatu aja"
"ya namanya juga baru putus ya pasti merasa kehilangan lah, jalani aja dulu entar lama-lama biasa kok"
"lu pernah gini ga? merasa dicampakkan dan ga dianggap gini? merasa ga dihargai?"
pertanyaannya seakan melemparku kejamam SMA dulu, dimana ada seorang perempuan yang benar-benar aku sukai, yang benar-benar ku cintai sampai mati pikirku,yang juga, mencampakkan ku dan tak memanggap semua usahaku.
"haha engga ada deh kayaknya, gue mah ga terlalu baper kayak lu haha" candaku meledeknya
"enak ya jadi lu, ga pernah tersakiti ga pernah merasa terbuang dan ga dianggap kaya gue"
aku hanya tersenyum, ingin rasanya kuceritakan semua kisah tentang perempuan semasa SMA yang sangat aku sukai itu, yang berulang kali kucoba perjuangakan, dan berkali-kali pula dicampakkan, dilihat pun tidak, hanya dianggap sebagai teman, ya, ingin sekali kuceritakan padamu tentang perjuangan itu, biar kau tau sebagaimana aku berusaha bahkan sampai kini pun aku tetap berusah untuk mendapatkannya, apapun yang terjadi, aku masih memegang mimpi itu, ya sampai sekarang.
tapi, tidak mungkin kuceritakan pada orangnya langsung kan?, "haha" tawa ku kecil.
kami pun memulai jogging, dan entah mengapa hari ini lebih dingin dari biasanya.
"sebenarnya aku salah gak sih mutusin dia?" tanyanmu tiba-tiba padaku.
"yaa kalo menurut lu dia emang layak diputusin sih, udah paling bener apa yang lu lakuin, kan kalo lu ga yakin tinggal balikan lagi haha..." jawabku setengah bercanda.
"ya pasti layaklah! dia udah khianatin gue gini, udah selingkuh pula, gue sampe sekarang ga abis pikir dia kok tega ngelakuin giniaan sama gue" sampai sini aku dengar nada suaranya mulai berubah, aku tau dia mulai menahan air matanya.
"terus kenapa? lu masih bimbang sampe sekarang sama keputusan lu?"
"entahlah gue juga ga tau, aku tetep ga bisa ngelupain dia, kenapa sih hidup gue gini amat? selalu berakhir gini dicampakkan, dikhianati, selalu seperti ini apa salah gue??" akhirnya, nangis juga pikirku.
"kalo lu tanya gue, lu cuma kurang beruntung doang, yaa belum ketemu orang yang tepat aja"
"berapa lama lagi sakit yang harus gue terima sampe dapat laki-laki yang bener-bener cinta sama gue??" tangisannya semakin menjadi.
"gue sendiri ga tau sih, tapi lu harus percaya lu akan ketemu, kalo lu percaya gue yakin ga akan lama lagi lu pasti ketemu sama orang yang lu impikan"
dia terdiam sejenak, menyeka matanya, merapikan dandananya.
"iya, gue harap" pungksanya sambil memandang jauh ke luar sana
dan mobil kami pun masih tetap disini tidak kemana-mana kalah oleh lautan manusia yang tetap tidak bergerak dipersimpangan lampu merah ini.
dua minggu setelahnya aku ketemu dia lagi, kali ini saat dia mengajak untuk jogging ditaman kota, ini pertama kalinya dia mengajakku berolahraga, aku iyakan karena memang akhir-akhir ini hidupku hanya berada didepan leptopku, mengerjakan tugas.
"tumben ngajakin olahraga?" tanyaku.
"iya nih, aku mau nyari-nyari kegiatan aja, siapa tau aku bisa ngelupain mantanku yang kurang ajar itu"
"yaelah niat banget ngelupainnya haha"
"iya entah mengapa gue tetep merasa kesepian, habis putus dengan dia, gue kayak kehilangan sesuatu aja"
"ya namanya juga baru putus ya pasti merasa kehilangan lah, jalani aja dulu entar lama-lama biasa kok"
"lu pernah gini ga? merasa dicampakkan dan ga dianggap gini? merasa ga dihargai?"
pertanyaannya seakan melemparku kejamam SMA dulu, dimana ada seorang perempuan yang benar-benar aku sukai, yang benar-benar ku cintai sampai mati pikirku,yang juga, mencampakkan ku dan tak memanggap semua usahaku.
"haha engga ada deh kayaknya, gue mah ga terlalu baper kayak lu haha" candaku meledeknya
"enak ya jadi lu, ga pernah tersakiti ga pernah merasa terbuang dan ga dianggap kaya gue"
aku hanya tersenyum, ingin rasanya kuceritakan semua kisah tentang perempuan semasa SMA yang sangat aku sukai itu, yang berulang kali kucoba perjuangakan, dan berkali-kali pula dicampakkan, dilihat pun tidak, hanya dianggap sebagai teman, ya, ingin sekali kuceritakan padamu tentang perjuangan itu, biar kau tau sebagaimana aku berusaha bahkan sampai kini pun aku tetap berusah untuk mendapatkannya, apapun yang terjadi, aku masih memegang mimpi itu, ya sampai sekarang.
tapi, tidak mungkin kuceritakan pada orangnya langsung kan?, "haha" tawa ku kecil.
kami pun memulai jogging, dan entah mengapa hari ini lebih dingin dari biasanya.

Komentar
Posting Komentar